Gunungsitoli, Rabu (11/9) Sehubungan dengan penyelenggaraan agenda Nasional Sail Nias 2019, yang salah satu rangkaian kegiatannya adalah International Seminar on Nias Heritage (Seminar Internasional tentang Warisan Budaya Nias) yang dilaksanakan di Gedung Pertemuan Salak Madu Desa Faekhu, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli.

Walikota Gunungsitoli, Ir. Lakhomizaro Zebua dalam pidato sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang secara resmi mewakili Pemerintah Kota Gunungsitoli dan masyarakat Kepulauan Nias atas kedatangan Dirjen Kekayaan Intelektual RI, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI dan rombongan di Kepulauan Nias dalam rangka menghadiri Seminar Internasional Warisan Budaya Nias sebagai salah satu agenda Sail Nias 2019 pada hari ini. Mewakili Pemerintah, Walikota menyambut baik dan sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini serta tak luput menyampaikan ucapan terimakasih setinggi-tingginya atas dukungan dari Menteri Hukum dan HAM RI, Dirjen Kekayaan Intelektual RI yang telah menggagas dan memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini, demikian pula dengan Narasumber yang telah berkenan menjadi pemateri dalam seminar ini dan seluruh pihak yang turut serta hingga terselenggaranya event akbar berupa Seminar Internasional di Kota Gunungsitoli, Kepulauan Nias ini. Beliau mengaku bangga akan pelaksanaan seminar internasional ini sebagai forum penting dalam pelestarian budaya peninggalan leluhur Nias sebagai warisan budaya nasional.

Walikota Gunungsitoli, Ir. Lakhomizaro Zebua saat memberikan sambutan dan ucapan selamat datang secara resmi kepada seluruh tamu

Walikota memaparkan kepada seluruh hadirin bahwa di Kepulauan Nias, Kota Gunungsitoli pada khususnya tidak hanya unggul dalam hal destinasi wisata, akan tetapi Kepulauan Nias juga menyimpan berbagai kekayaan budaya diantaranya atraksi wisata budaya, tarian tradisional, kuliner khas Nias dan banyak hal lain yang hanya ditemui di Kepulauan Nias. Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten/Kota se-Kepulauan Nias tetap konsisten selama ini melaksanakan pagelaran dan event budaya seperti “Yaahowu Nias Festival” setiap tahunnya sebagai upaya melindungi dan melestarikan kekayaan budaya Nias serta menggelorakan semangat generasi muda dalam mempelajari dan menjaga kebudayaan Nias sebagai warisan budaya yang akan diteruskan secara turun temurun bagi generasi berikutnya.
Dalam kesempatan ini Walikota menyampaikan harapan agar Pemerintah Pusat senantiasa mendukung pelestarian dan perlindungan budaya Nias sebagai kekayaan kebudayaan bangsa dan salah satu daya tarik pariwisata nasional bahkan internasional.

Menteri Hukum dan HAM yang seyogyanya membuka secara resmi Seminar Internasional ini, namun bertepatan pada saat ini juga Yasonna H. Laoli menerima Penganugerahan gelar Guru Besar Kriminologi pada Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri di Jakarta Selatan, maka dalam hal ini diwakili oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, Fredi Haris membuka secara resmi Seminar Internasional Warisan Budaya Nias yang ditandai dengan pemukulan gong dengan didampingi oleh Perwakilan Kemenko Maritim RI, Kosmas Harefa, Deputi bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sekretariat Kabinet RI, Yuli Harsono, Walikota Gunungsitoli dan segenap Unsur Forkopimda Kota Gunungsitoli.

Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, Fredi Haris dalam arahannya menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi yang tinggi serta penuh rasa haru atas sambutan hangat dan penuh kekeluargaan dari Pemerintah Kota Gunungsitoli dan seluruh Unsur Forkopimda. Beliau mengakui bahwa Kepulauan Nias yang indah yang menyimpan kekayaan alam yang luar biasa memang layak dan tidak salah dihunjuk sebagai lokasi pelaksanaan SAIL Indonesia pada saat ini. Beliau sedikit mengulas tentang peninjauan beberapa tempat setibanya di Kota Gunungsitoli, bahwa nilai estetik dan keindahan Kepulauan Nias sangat unik yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Beliau juga cukup bangga bahwa setibanya di Kota Gunungsitoli beliau merasakan aura kebahagiaan atas kenyamanan, kebersihan dan keindahan yang ada. Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa Kementerian Hukum dan HAM mendukung penuh pelaksanaan kegiatan SAIL Nias 2019 ini sebagaimana diamanatkan dalam program Kementerian Hukum dan HAM untuk memberikan hak ekspresi budaya dan warisan budaya tradisional sebagaimana diketahui bahwa budaya adalah kekayaan bangsa yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Maka sekali lagi, tidak salah jika Nias menjadi pusat Sail Indonesia 2019, melihat posisi Nias sebagai aset budaya bangsa yang berharga dan harus dipromosikan, baik secara Nasional bahkan Internasional dan tidak terlepas dari kekayaan budaya nasional. Selain memiliki kekayaan alam dan keindahan bahari, Nias juga memiliki batu megalitikum sebagai pertanda tonggak sejarah keberadaan manusia dan peradaban di bumi ini, yang mana pada saat itu sama sekali belum mengenal aksara, dan dikenal dengan zaman batu besar yang bercirikan penggunaan peralatan dari bebatuan oleh masyarakat dan bentuk bangunan yang berundak-undak. Namun kita bisa melihat betapa kemajuan yang telah dicapai oleh masyarakat, khususnya Kepulauan Nias di era modern sudah tergolong canggih dari masyarakat buta aksara menuju masyarakat maju dan menguasai teknologi sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan dan harus terus ditingkatkan. Maka melalui Sail Nias 2019 merupakan upaya memperomosikan Nias di dunia Internasional. Termasuk Desa Bawomataluo yang menyimpan kekayaan alam warisan leluhur Nias dan saat ini telah dipromosikan oleh Organisasi Keilmuan PBB yaitu UNESCO agar dapat ditetapkan sebagai salah satu ikon budaya dunia. Dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM RI mengajak seluruh pihak untuk mendukung dan memperkuat upaya melindungi sisa warisan budaya seperti bebatuan megalitikum dan warisan budaya lainnya, demikian pula dengan pelestarian lingkungan dan kekayaan alam Kepulauan Nias, sebagai bentuk tanggungjawab bersama melindungi dan melestarikan warisan budaya Nias. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momentum Seminar Internasional tentang Warisan Budaya Nias sebagai rangkaian Sail Nias 2019 yang berskala besar ini sebagai sarana utama bagi akademisi, pemerhati budaya dan para tokoh untuk mempresentasikan berbagai pengetahuan tentang warisan Budaya Nias kepada generasi muda dan para wisatawan serta menjalin kerjasama dengan ilmuan asing dan memberikan masukan yang berguna bagi Pemerintah Daerah, pemangku kepentingan, dan sektor swasta untuk memaksimalkan industri kepariwisataan Nias. Beliau berharap semoga melalui Sail Nias yang sangat kita banggakan ini dapat menjadi alat membangun citra Nias untuk dikenal sebagai lokasi penyimpanan budaya artistik dunia dan diharapkan menarik animo wisatawan untuk mempertimbangkan Kepulauan Nias sebagai tujuan destinasi wisata yang harus dikunjungi.

Dalam kesempatan ini, usai menyematkan salempang adat nias dan memberikan Plakat resmi dari Pemerintah Kota Gunungsitoli kepada Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, Walikota Gunungsitoli juga menerima cenderamata yang diserahkan langsung oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI.

Seminar Internasional yang dibuka dengan pertujukan Tari Bolihae dari Sanggar Museum Pusaka Nias ini diisi oleh 5 orang Narasumber yang cukup mumpuni dan akan mengupas tuntas masalah warisan Budaya Nias. Diantaranya Pastor Johannes M. Hammerle, OFMCap (Pemilik Yayasan Museum Pusaka Nias), Dr. Ulrike Herbig (Wakil Presiden ICOMOS Austria), Prof. Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M. Eng, Ph.D, IPU (Ketua Tim Ahli Riset Pengajuan Desa Bawomataluo menjadi Warisan Dunia di UNESCO dan Akademisi di UGM), Dr. Shimoda Ichitta (Praktisi di UNESCO dan Akademisi dari Universitas Tsukuba, Jepang), dan Pendeta Tuhoni Telaumbanua, M.Si, Ph.D (Ephorus BNKP), yang dipimpin oleh Moderator Dr. Timothius Triswan Larosa (Staf Operasi Mabes TNI AU dari Bandung) dan Rahmi Fitriyanti, M.Si (Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Negeri di Jakarta dan mantan editor di Caltron Multimedia Indonesia dan Buletin Institut Hukum Sumberdaya Alam (IHSA) serta pernah berkarier di Direktorat Komunikasi Komisi Pengawas Persaingan usaha RI). Topik yang diangkat dalam seminar ini adalah (1) Kebudayaan Nias sebagai Bagian dari Budaya Nasional, dan (2) Nias sebagai Warisan Budaya Dunia.

Tari Bolihae sebagai tarian pembuka yang ditampilkan oleh Sanggar Museum Pusaka Nias, Kota Gunungsitoli

Seminar berlangsung dengan lancar, dihadiri oleh Ketua LBN, Baziduhu Zebua dan segenap pengurus, para Tokoh Agama, Tokoh Budaya dan Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Ketua dan Wakil Ketua TP.PKK Kota Gunungsitoli dan jajarannya, Ketua DWP Kota Gunungsitoli, Wakil Walikota Gunungsitoli Periode 2011-2016, Aroni Zendrato, Kepala Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Kota Gunungsitoli, Dosen/Rektor dari Perguruan Tinggi se-Kota Gunungsitoli, rombongan dari Kementerian Hukum dan HAM RI beserta perwakilan Dubes dari beberapa Negara, Pimpinan Instansi Vertikal/BUMN/BUMD se-Kota Gunungsitoli, pemerhati Budaya,
**

Ayo follow, subscribe, like, share dan update informasi tentang Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui akun media sosial:
🔍 FB : Humas Pemko
📷 IG : @humas_pemko_gunungsitoli
🎥 YT : Humas Pemko Gunungsitoli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here